Iron Man 3 : Kreatifitas Datang Setelah Mengalami Trauma Pada Kejadian Avengers (2012)

Iron-Man-3-lPercayalah, Iron Man 3 bukan sekadar film superhero! Setelah menyaksikan film ini, bisa jadi Anda akan menyusun ulang definisi seorang superhero. Soal visual efek, tak usah dipertanyakan lagi. Bagi saya, hal yang paling ditunggu setiap menyaksikan film superhero (entah dari Marvel atau DC Comics) adalah filosofi yang melekat di kisah setiap pahlawan super. Dan saya pun cukup puas dengan pesan moral yang disampaikan oleh Iron Man 3.

Film ini diawali kisah flashback ketika Tony Stark sedang menanti malam pergantian millennium di Swiss bersama Maya Hansen, seorang ahli tanaman. Ketika hendak memasuki hotel, Stark didekati seorang ilmuwan yang menawarkan kerjasama riset dengan Stark Industry. Alur cerita kemudian melompat ke masa kini. Uniknya, kondisi psikologis Stark dalam Iron Man 3 dibangun dari kejadian yang dialaminya saat melawan alien di film The Avengers. Stark digambarkan mengalami trauma yang cukup dalam ketika hampir “mati” dalam armor Iron Man di The Avengers. Akibatnya, ia begitu terobsesi untuk menyempurnakan teknologi Iron Man (Stark menciptakan Iron Legion) yang terdiri dari Mark 8 sampai Mark 42.

Iron_Legion

Iron Legion

Shane Blake (sutradara Iron Man 3) tak menjadikan trauma psikologis Stark sebagai pemanis kisah semata. Akibat kondisi emosi yang labil, Stark membuat kesalahan fatal yang mengakibatkan sang villain utama menyerang “markas” Iron Man. Pada momen ini, Stark digambarkan sebagai seorang hero yang harus benar-benar berjuang meski tak didukung oleh persenjataan canggih. Ia bahkan terdampar di sebuah kota kecil dan terpaksa membuat senjata mekanis ala McGyver. Sisi trauma psikologis Stark diperlihatkan ketika ia mengalami gejala gangguan kecemasan seperti sesak napas yang tiba-tiba. Berkali-kali, ia tampak cemas terhadap kekuatan Iron Man. Beruntung, ia bertemu dengan seorang anak kecil yang, dengan berbagai kebetulan, ikut membantu misinya menemukan Mandarin (villain dalam kisah ini). Jadi, Stark tidak hanya berkonflik dengan sang tokoh jahat, ia juga berkonflik dengan kepercayaan dirinya sendiri.

Iron-Man-3-Interviews-The-Mandarin-Movie-Comic-Book-Differences

Mandarin

Ada beberapa hal dalam cerita Iron Man 3 yang benar-benar mengecoh saya, tapi justru itu yang membuat film ini menarik. Film ini, melalui tokoh Mandarin, tampaknya hendak mengangkat isu terorisme dan kapitalisme global (dengan menampilkan perusahaan minyak raksasa). Aksi-aksi teror yang dilakukan oleh Mandarin terlihat sangat profesional, bahkan selalu disiarkan di saluran televisi Amerika Serikat (setelah Mandarin and his team membajak saluran televisi, tentunya). Mandarin juga berhasil menculik Presiden AS. Mau tak mau, perhatian semua orang akan tertuju pada Mandarin. Kondisi yang jamak terjadi dalam kehidupan manusia modern saat ini. Saat ada satu orang yang dijadikan fokus secara massal, ada pihak-pihak lain yang “cuci tangan” dan tampak tak terlibat. Kalau Anda penasaran apa yang sebenarnya terjadi di Iron Man 3, saksikan saja filmnya.

Peran Pepper Pots dalam film ini juga tak sebatas sebagai kekasih Tony Stark. Di klimaks pertempuran antara Stark (ia bertarung tanpa kostum lengkap Iron Man) melawan sang musuh utama, Pots mengambil peran sebagai hero yang sebenarnya. Tampaknya karena itu pula, Stark pada akhirnya harus berada pada pilihan untuk melanjutkan peran sebagai superhero plus miliarder atau memilih salah satunya saja. Lagi-lagi, ada filosofi mengenai penentuan tujuan hidup yang pasti dialami oleh tiap manusia.

Seperti ungkapan yang banyak digunakan para fotografer, The Man Behind The Gun, Iron Man 3 menyampaikan pesan bahwa menjadi superhero bukanlah soal kekuatan super yang mampu dihadirkan oleh peralatan serba canggih dan modern. Barangkali, semua orang bisa menjadi hero ketika dirinya dilengkapi dengan kostum Iron Man. Tapi tak semua orang punya karakter pahlawan saat dirinya sendiri berada dalam masalah dan tekanan psikologis yang cukup berat. Seorang pahlawan harus memiliki sikap altruisme, sikap yang tak boleh ditawar-tawar. Dan Stark membuktikan bahwa ia pantas berada di balik armor Iron Man. Bukan karena kekuatan supernya, tapi karena karakternya. Seperti ucapan Stark di akhir film, “I’m the Iron Man”

Selamat menikmati!

Leave a Reply

Your email address will not be published / Required fields are marked *